( READ DOWNLOAD ) ♭ The Road to the Empire ☻ MOBI eBook or Kindle ePUB free

Novel ini benar benar membetot segala rasa saya Saya tersentak, saya bergemuruh, saya menangis, menelusur epik yang begitu detail dan kuat nuansa risetnya Pemaparan tokoh tokohnya begitu manusiawi Tak ketinggalan, kisah romantika yang benar benar berbeda, tak bergenit genit dan mendayu dayu tanpa arti Bab demi bab membuat saya acap kali menarik napas Dan sampai pada titik kata terakhir, saya tak mau novel ini tamat. 4,5 bintang Bagi sebagian orang novel berhalaman tebal cepat membuat mereka bosan dan mungkin malas untuk membacanya, tetapi tidak untuk novel ini.Takudar, Arghun, dan Buzun adalah tiga putra Tuqluq Timur Khan, penguasa kekaisaran Mongolia, keturunan Jengiz Khan Semasa hidupnya Tuqluq Timur Khan berjanji kepada Syaikh Jamaluddin bahwa ia akan menjadi seorang Muslim usai menyatukan Mongolia Belum sempat menunaikan janjinya terjadi kudeta yang menewaskan Tuqluq Timur Khan dan Permaisuri Ilkhata Sebelum meninggal, Tuqluq Timur Khan telah mewariskan janjinya kepada Takudar, sedangkan Syaikh Jamaluddin kepada Rasyiduddin.Tuqluq Timur Khan memimpin Mongolia dengan sangat bijaksana dan arif, namun semua berubah setelah kematiannya Kekaisaran Mongol beralih kepada pemimpin yang kejam dan sangat mencintai peperangan.Arghun, Pangeran Kedua naik tahta secara otomatis dengan penuh konspirasi atas bantuan Albuqa Khan, panglima kepercayaan Kaisar Tuqluq setelah Pangeran Kesatu, Takudar, pewaris sah tahta kekaisaran menghilang bersama pelayan setianya Sementara Buzun, Pangeran Ketiga, tetap mengabdi di kekaisaran dan sesekali mencari tahu keberadaan Takudar.Di bawah bayang bayang Albuqa Khan, Arghun menjadi Kaisar yang sangat ambisius dan bersemangat menaklukan dunia Sebagai Panglima Besar Mongol dan satu satunya penasihat Kaisar, Albuqa Khan dengan mudah menyetir Arghun untuk bertindak sesuai keinginannya Albuqa Khan meyakinkan Arghun akan wasiat Jengiz Khan kepada putra putranya bahwa hanya ada satu matahari di langit dan meneruskan ekspansi Mongol ke wilayah barat ke arah jantung dunia Jerusalem Arghun yang berhati keras dan mudah terpengaruh ucapan Albuqa Khan mulai menyiapkan pasukan demi mewujudkan cita cita Jengiz Khan tersebut.Sementara itu dalam pelariannya, Takdir Tuhan mempertemukan Takudar dengan Rasyiduddin atau Salim di Syakhrisyabz Di wilayah muslim Mongol tersebut Takudar berikrar menjadi seorang Muslim dengan nama Islam Takudar Muhammad Khan Agar tidak membahayakan dirinya, Takudar lalu menyembunyikan identitas diri dengan menyamar menjadi rakyat jelata dan mengubah namanya menjadi Baruji.Bersama orang orang Muslim, Baruji merencanakan perlawanan dan menggalang pasukan untuk merebut tahta kekaisaran Kepercayaan umat Muslim akan janji Kaisar Tuqluq Timur Khan terwariskan kepada Baruji Mereka percaya bahwa Pangeran Kesatu akan memenuhi janji tersebut Bagi Muslim Mongol, Baruji adalah sebuah harapan, Asa akan sebuah keadilan dan naungan bagi ribuan rakyat dalam prahara.Layaknya sebagian besar fiksi lain, novel ini pun berbalut bumbu romantisme dengan kehadiran perempuan perempuan yang memiliki peran masing masing Uchatadara atau Almamuchi, dayang pribadi Pangeran Kesatu yang mendapat mandat dari Permaisuri Ilkhata untuk melayani dan menjaga Takudar meski harus berkorban nyawa Urghana, putri Albuqa Khan yang dicintai Arghun tapi mencintai Buzun Selir Albuqa Khan, Han Shiang yang sama liciknya dengan Albuqa Khan Juga Karadiza, gadis muslim pemberani dan lugas.Novel ini adalah jawaban dari kisah panjang menggetarkan yang dimulai oleh Sebuah Janji Kaisar Tuqluq Timur Khan untuk menyatukan Mongol di bawah kepemimpinan kekaisaran Muslim dan pelarian lama nan melelahkan Takudar dalam The Lost Prince.Selamat membaca TENTANG CINTA, PERSAUDARAAN DAN PERJUANGAN Pelajaran Berharga Dari TRTTE Judul The Road To The Empire Kisah Takudar Khan, Pangeran Muslim Pewaris Mongol Penulis Sinta YudisiaPenyunting Ahli Maman S MahayanaGenre Novel SejarahPenerbit Lingkar Pena Publishing HouseCetakan I, Desember 2008Sesekali, tanyakanlah pada anak anak atau remaja di sekitar kita, Siapa nama pahlawan yang mereka kenal Tak jarang, tanpa merasa bersalah , sebagian dari mereka menjawab dengan polos, Spiderman , Wonder Woman , atau bahkan Doraemon Ajaib bukan Maka, sejarah sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi kita untuk mengarifi kehidupanpun menguap begitu saja.Beberapa tahun terakhir, beberapa orang penulis tanah air mencoba menjawab kegelisahan ini dengan menghadirkan kembali sejarah dalam kemasan yang berbeda fiksi, entah itu novel ataupun cerpen Sebut saja di antaranya Tasaro Pitaloka , Sakti Wibowo Tanah Retak , Agus Trijanto Tonil Nyai di Ujung Senapan , Afifah Afra Trilogi Bulan Mati atau Langit Krena Hariadi Gadjah Mada yang mewakili generasi saat ini Di generasi dahulu, bisa kita temui nama Pramodia Ananta Toer Bumi Manusia , Abdul Muis Suropati , juga SM Ardan Nyai Dasimah Yang terbaru dan cukup populer adalah Sinta Yudisia dengan novelnya The Road To The Empire yang berhasil meraih Award untuk Buku Fiksi terbaik di ajang Islamic Book Fair 2009 lalu Novel ini adalah sekuel dari dua novel Sinta sebelumnya, Sebuah Janji dan The Lost Princes Sayangnya dua buku terdahulu ini kurang terdengar gaungnya Padahal, menurut saya pribadi, dua buku ini tidak kalah bagusnya Hanya saja, secara kemasan, The Road To The Empire memang tampil lebih menarik dan menjual.Novel setebal 586 halaman ini sangat kental nuansa Mongolnya Kita akan dibawa oleh Sinta Yudisia, yang telah menulis beberapa buku best seller ini, ke dalam sebuah pertempuran bukan hanya fisik, tapi juga batin seorang pejuang mongol, Takudar Khan Membaca buku ini, niscaya kita akan semakin menghayati nilai sebuah ikatan persaudaraan yang bukan disebabkan oleh aliran darah semata, tapi oleh sesuatu yang lebih dalam dari itu Dan tanpa anda sadari, anda akan menangis atau mungkin tersentuh dan tertawa karenanya Kisah yang sungguh indah dan inspiratif.Novel ini bercerita tentang Takudar, Arghun dan Buzun adalah tiga putra mahkota dari dinasti mongol yang tercerai berai karena penghianatan Albuqa Khan yang dianggap sebagai tangan kanan Kaisar, tapi sebetulnya tak lebih seperti srigala berbulu domba Ayahnya, Tulquq Timur Khan, juga ibunya Permaisuri Ikhata meninggal dunia dengan tidak wajar Padahal kaisar Tulquq Timur Khan yang bijaksana itu mempunyai harapan yang mulia untuk mengembalikan kejayaan dinasti mongol dan menyatukan rakyatnya di bawah panji perdamaian yang kokoh tanpa dikotori pertumpahan darah dan kekerasan sebagaimana yang dilakukan leluhurnya Tentu masih lekat dalam sejarah bagaimana kejamnya Jengish Khan yang mencatat sejarah berdirinya imperium Mongolia sebagai kekaisaran terbesar kedua di dunia dan yang paling masyur di dataran Cina itu dengan tinta darah dan peperangan.Sejak kejadian berdarah yang menimpa istana itu Takudar, putra mahkota, melarikan diri ke arah Barat dan memulai hidupnya sebagai rakyat jelata Bayangan masa lalu yang seakan terus mengejar, bahkan sampai ke dalam mimpi adalah sebuah siksaan berat yang harus ditanggungnya sepanjang hidup Iapun berganti nama menjadi Baruji dan menyusun kekuatan di sebuah madrasah pimpinan putera Syaikh Jamaluddin dan memeluk keyakinan yang dianut Syaikh Jamaluddin dan keturunannya.Apakah yang akan terjadi selanjutnya Mampukan Takudar atau Baruji merebut kembali tahta dan mengubah wajah Mongolia yang penuh ceceran darah dengan cahaya yang cemerlang Apakah Takudar akan bertemu dengan saudara saudaranya kembali Sanggupkan Takudar melawan adiknya sendiri, Arghun Khan, yang memimpin Monggol dengan tangan besi Apakah takudar akan menikah dengan Yan Chi, yang selalu setia bersamanya Semuanya akan terjawab dalam rentetan peristiwa yang seolah rententan pristiwa yang diolah secara indah oleh Sinta Yudisia dalam novel ini Nuansa sejarah yang kaku dan membosankan berhasil ditepis oleh penulis paling prodkutif di jajaran aktivis FLP ini Bahasa yang mengalir tajam adalah kekuatan utama novel ini Menguras perasaan Itulah kesan pertama saya usia membaca novel tebal ini Cinta, penghianatan, persaudaraan, intrik, taktik perang dan segala hal seolah menyatu dalam novel ini Hal ini semakin terasa karena Sinta Yudisia berhasil menggambarkan detail dan lattar Monggol dengan begitu indah Membaca buku ini, kita seolah bisa merasakan nuansa oriental yang sangat kental dan hidup, khas Sinta Yang saya perhatikan dari karya karyanya, Sinta Yudisia memang adalah tipe penulis yang mau bersusah payah melakukan riset untuk menghasilkan karya yang bermutu dan bernuansa.Dialog dialog yang padat dan kalimat demi kalimat yang disusun dengan indah serta penuh nuansa semakin membuat kita merasa berat untuk tidak membuka halaman demi halaman novel ini sampai akhir.Lingkar Pena Publishing House, selaku penerbitpun betul betul memperhatikan detail sampul yang sangat memikat dan epik banget Nampaknya ini menjadi daya jual sendiri bagi novel ini Bahkan Maman S Mahayana, seorang guru besar UI yang telah malang melintang jie di jagad sastra tanah air ikut mewarnai novel ini sebagi editor.Namun, sayangnya, ada banyak kesalahan ejaan kata dalam beberapa lembar buku ini Kesalahan kecil memang, tapi betapa mengganggunya Lebih lebih ketika membaca tagline judul novel ini Kisah Takudar Khan, Pangeran Muslim Pewaris Mongol Padahal dalam novel ini, Takudar Khan adalah putra mahkota atau ahli waris, bukan pewaris yang mewariskan Aneh sekali, bukan Saya juga termasuk ke dalam golongan pembaca yang merasa diremehkan dengan penggunaan tagline di banyak novel belakangan ini Padahal, saya pikir, tanpa tagline pun, pembaca cukup memahami seperti apa isi sebuah novel.The Road To The Empire memang adalah judul yang cukup bagus Namun, apakah tidak lebih baik jika diberi judul yang Indonesia saja Memang, belakangan ini, banyak penulis kita yang maaf merasa lebih pede memakai judul dengan bahasa asing, karena dianggap lebih mudah diserap pasar Tapi jika tujuannya agar ide dalam tulisan kita bisa ditangkap, why not Namun, memakai judul dengan bahasa Indonesia yang membumi di masyarakat, saya pikir adalah sebuah langkah bijak yang juga harus dipikirkan oleh penulis.Terlepas dari itu, bagaimanapun, The Road To The Empire, adalah sebuah novel yang patut diapresiasikan dan layak menjadi koleksi yang akan dibaca oleh generasi generasi muslim ke depan, sehingga inspirasi inspirasi positif dalam novel ini, agar kita terus berjuang membela dien, bisa terus berkibar sepanjang abad.Lebih lebih lagi, Sinta Yudisia dan para penulis perempuan FLP lainnya lahir di tengah euphoria penulis perempuan yang seolah berlomba mengibarkan bendera sastra seputar kelamin.Dan hey, Sinta Yudisia Mengapa tak kau tulis sejarah Indonesia yang gilang gemilang dalam novelmu Saya percaya, banyak yang menunggu goresan pena emasmu Teruslah berkibar dan jangan padam Bima, Juli 2009 Judul The Road to The EmpirePenulis Sinta YudisiaPenerbit Lingkar Pena Publishing HouseCetakan I, Desember 2008Tebal 571 halamanJanji Suci Sang Pangeran MongolMelihat cover dan judulnya, yang terbayang adalah sebuah kisah tentang kaisar, pedang dan peperangan Melihat ketebalannya, yang terbayang adalah cerita yang demikian panjang dan pelik layaknya penggambaran kisah sejarah Namun, membaca mulai lembar pertamanya ternyata cukup menarik dan mengundang rasa penasaran untuk mengikuti lembar lembar selanjutnya Novel ini berkisah tentang perjuangan pangeran Takudar Khan untuk melanjutkan amanah ayahnya, Kaisar Tuqluq Timur Khan yang dibunuh dalam sebuah pengkhianatan Pemicunya adalah, panglima Albuqa Khan tak suka dengan Tuqluq yang sedang terpikat oleh indahnya nilai nilai Islam dan berencana akan mewarisi nilai nilai tersebut pada pemerintahan Takudar Khan kelak Setelah pengkhianatan dan pembunuhan pada Tuqluq dan permaisuri, pemerintahaan yang tercerai berai, digantikan oleh putera kedua kaisar, Arghun Khan yang kemudian memerintah dengan semena mena Cerita berlanjut pada rencana Takudar untuk menggulingkan rezim Arghun Khan yang selalu menumpas daerah daerah minoritas termasuk wilayah muslim Diakhir bab, cerita menjadi seru ketika peperangan dimulai dan berlanjut pada peristiwa berdarah, perang saudara antara pangeran Takudar dan kaisar Arghun Saat saat mengharukan yang mampu membuat air mata menetes adalah ketika adik bungsu mereka, Pangeran Buzun yang berusaha melerai justru menjadi korban pedang Argun yang menembus ulu hatinya Takudar demikian sedihnya dan tak menyangka, adiknya yang lama tak ditemuinya mati di tangan kakaknya sendiri, Arghun Khan Secara menyeluruh, imajinasi penulis demikian sempurna menghadirkan kisah kekaisaran Mongol dalam cerita ini Dari mulai seting, penokohan, nama, hingga aksesoris dan istilah istilah yang digunakan jelas didahului dengan riset sejarah yang tak mungkin sedikit Cukup salut dengan deskripsi berbalur gaya bahasa metaforis yang membuat novel ini benar benar hidup Hingga layaknya sebuah film, kekaisaran mongol dengan rentangan abad yang silam, mampu dihadirkan penulis secara nyata Tak heran, Choirul Umam berkomentar dalam endorsement novel ini, Sangat filmis, Sinta mampu menghadirkan Mongol pasca Jenghiz Khan dengan sangat memikat Pun dengan karakter tokoh tokohnya yang kuat Membaca novel setebal 500 halaman lebih ini dirasa tak begitu menjemukan Seting daratan Cina yang penuh liku dan strategi peperangan yang pelik, oleh penulis dibumbui dengan kisah kisah romantisme antara kaisar dengan Urghana, putri panglima Albuqa Khan yang cantik, dan juga Takudar Khan yang diam diam menyukai Almamuchi, pelayannya yang sangat setia Sejumput pesan penting yang tertangkap dalam novel ini adalah, bahwa ikatan akidah keyakinan mengalahkan ikatan darah Takudar yang mencintai Argun Khan, saudara kandungnya sendiri, harus rela menggeser rasa ibanya pada Argun Khan dan memeranginya demi mengemban janji suci sang ayah menegakkan pemerintahan yang adil Namun entah disengaja atau tidak oleh penulisnya, simpul kepribadian Argun Khan yang mencerminkan kebengisan dan kejahatan yang membedakannya dengan kedua saudaranya hanya ditonjolkan di akhir cerita Sehingga di awal cerita, sempat terselip bias keraguan untuk menetapkan bahwa Arghun Khan layak untuk ditumbangkan Novel yang tak biasa dibanding novel lainnya yang menyodorkan tema normatif yang tak jauh dari kekinian Melalui nilai sejarahnya, secara tak langsung novel ini mencerdaskan pembaca yang tak mengetahui seluk beluk sejarah Mongolia dengan Jenghiz Khan nya Juga, terselip tanpa sadar, bahwa ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari nilai sejarah yang diramu penulis melalui sebuah cerita Sebuah perjuangan menyeluruh dari rakyat yang setia pada pemimpin yang adil, mengagumi kekuatan ikatan persaudaraan dalam agama, serta keyakinan yang mengharukan ketika kebatilan akhirnya tumbang dan dikalahkan oleh kekuatan yang tak terduga Setidaknya, seperti saat membacanya, gambaran deskripsinya yang nyata mungkin akan semakin tampak seru jika novel ini diangkat menjadi film kolosal di layar lebar MARDIANA diana20377 gmail.com ( READ DOWNLOAD ) ♱ The Road to the Empire ♔ Takudar, Arghun, Buzun, Adalah Tiga Putra Tuqluq Timur Khan, Penguasa Kekaisaran Mongolia, Keturunan Jenghiz Khan Setelah Pembunuhan Terhadap Kaisar Dan Permaisurinya, Takudar, Pangeran Kesatu Yang Juga Pewaris Sah Tahta Kekaisaran, Menghilang Arghun Khan, Pangeran Kedua Naik Menjadi Kaisar Dengan Konspirasi Dan Bantuan Albuqa Khan, Orang Kepercayaannya Sementara Buzun, Pangeran Ketiga, Tetap Mengabdi Di Kekaisaran, Tapi Dengan Rasa Rindu Dan Penasaran Terhadap Hilangnya Sang Kakak, TakudarArghun Khan Menjadi Kaisar Dengan Semangat Ekspansi Untuk Menguasai Dunia, Melanjutkan Kebesaran Leluhurnya, Jenghiz Khan Ia Bahkan Berambisi Menaklukkan Jerusalem Namun, Dalam Gerakan Penaklukan Dan Usaha Meluaskan Wilayah Kekuasaan Dengan Ambisi Yang Begitu Besar, Selalu Rakyat Yang Menjadi Korban Termasuk Di Dalamnya Masyarakat Muslim, Yang Sejak Khalifah Rasyidin Telah Menyatu Dengan Bangsa Mongolia Sebagai Warga Minoritas Bagi Masyarakat Muslim Mongol, Membiarkan Gerakan Ekspansi Berarti Juga Menyiapkan Kuburan Massal Tak Ada Pilihan, Perlawanan Harus Dilakukan Pada Saat Bersamaan, Pangeran Kesatu Yang Dalam Pelariannya Diselamatkan Oleh Orang Orang Muslim, Telah Kembali Meski Tersisih, Menggelandang, Dan Tak Punya Kekuatan Pasukan, Menegakkan Kembali Kebenaran Sejarah Adalah Sebuah Hal Yang Niscaya Bersama Orang Orang Muslim, Baruji Alias Takudar Muhammad Khan Merencanakan Perlawanan Untuk Merebut Tahta Buzun, Pangeran Ketiga Pun Berada Dalam Dilema Haruskah Ia Memihak Salah Satu Kakaknya Di Sisi Lain, Perempuan Perempuan Yang Ada Di Sekeliling Arghun, Takudar, Maupun Buzun, Memainkan Peran Masing Masing Almamuchi Alias Uchatadara, Gadis Dari Suku Tar Muleng Yang Selama Ini Setia Menjadi Pelayan Takudar Urghana, Putri Albuqa Khan Yang Mencintai Buzun, Tapi Harus Menghadapi Kekerasan Hati Arghun, Yang Juga Mencintainya Selir Albuqa Khan, Han Shiang, Yang Licik Juga Karadiza, Gadis Muslim Lugas Dan PemberaniMaka, Intrik Dan Konspirasi Politik Pun Bertabur Dalam Novel Ini Berbalut Kisah Heroisme Dengan Bumbu Romantisme Yang Tak Berlebihan Buku ini termasuk buku yang membutuhkan lama untuk dibeli.Nyaris 2 tahun Pertama kali lihat dan membaca sinopsinya sudah terlarik Lihat harga ternyata STD Namun lihat cetakannya langsung ngacir dengan teratur Niat mau ngintip rak buku teman2 kok kelewatan terusDi IBF, buku ini dipasangi tulisan diskon 40 % dengan manis, sepertinya sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak jadi membelinya Dengan menguatkan hati, lembar demi lembar halaman buku ini saya buka Lembaran yang ada mengajak saya berpetualang.Penulis yang melakukan riset dengan baik sehingga mampu menceritakan sebuah rincian tanpa kesan menggurui sepertinya sangat langka Buku ini dibuat tanpa maksud menonjolkan satu golongan dan menjatuhkan yang lain Isinya hanya menguraikan sebuah keadaan saja.Kisah peperangan yang sering kali berkesan kejam diimbangi dengan kisah romance yang mendayu dayu.Kesulitan saya hanya suka lupa nama nama tokoh karena merupakan nama asing yang sering kali mirip karena cetakan yang menyedihkan buat mata saya, makanya bintangnya dkurangi satu.Kalimat yang paling berkesan dalam buku ini untuk saya pribadi ada dihalaman 459 Seorang lelaki biasa yang tidak sebijak Abubakar, tidak sekuat Umar, tidak sekaya Utsman, tidak secerdas Ali Hanya pemuda dhaif yang meyongsong kebangkitan Mau satu dung Aku hanya Seorang lelaki biasa yang tidak sebijak Abubakar, tidak sekuat Umar, tidak sekaya Utsman, tidak secerdas Ali Hanya pemuda dhaif yang meyongsong kebangkitan hal 459berlatar belakang kekaisaran Mongol masa pemerintahan Tuqluq timur khan yang merupakan keturunan ketiga dari Jengiz khan.Masa dimana mulai masuk dan diterima pengaruh Islam di kekaisaran Mongol.Tuqluq timur khan yg bersikap menerima dan berjanji akan mendalami Islam pada salah seorang ulama menimbulkan bara dalam sekam di kerajaan.sikapnya yg seolah melindungi kaum muslim di mongol menimbulkan pemberontakan bahkan pembunuhan dirinya dan permaisuri..meninggalkan tiga orang putra pewaris tahta mongol,Takudar,Arghun khan dan Buzun.Takudar sebagai pangeran kesatu yg setelah pembunuhan ayah ibunya melarikan diri ke pemukiman kaum muslim demi melanjutkan janji ayahnya.Ia akhirnya memeluk Islam.menyusun strategi untuk kembali ke kekaisaran demi mendengar bagaimana kacaunya mongol dibawah pimpinan Arghun khan,adiknya.Sangat dramatis,tidak bertele tele,intrik dan konspirasi politik bertabur dalam novel ini Heroisme berbalut bumbu romantisme yang memikat dan menggetarkan..Salut buat Sinta Yudisia.. 2 3 bagian awal buku ini rasanya berjalan terlalu lambat Mungkin bahkan 3 4 bagian Ada sih bagian2 menarik terselip disana sini, misalnya waktu Almamuchi mendapatkan kitab rahasia sejarah, atau bagian pertemuan perpisahan Almamuchi dengan ibunya.Mungkin setelah bagian pertemuan Buzun dengan Rasyiduddin dan seterusnya, barulah buku ini benar2 menarik perhatian saya.Entah kenapa, mungkin karena saya berharap lebih banyak action dalam buku ini.Kekurangan lain, banyak sekali salah ketik typo nya Butuh editor dan proof reader yang lebih handal P saya pribadi sangat menikmati membaca buku ini,mulai benar benar menikmati buku ini lewat dari halaman dua puluh an..detil detil yang tersaji terkait latar zaman mongol berjaya sangat terasa.apik sekali penyajian dara sejarahnya.romantisnya pun dapet banget..ampe dibikin nangis..apalagi sama ukhuwah antara Takudhar dan Salimmembuat saya mengingati ukhuwah yang kental antara Anshar dan Muhajirin.top banget lah.sukaaahhee D Cool It Charged up our spirit and reminded us to recheck our own life vision and destination For what we live our life right now Have we been right on the track Have we made our best struggle to achieve it This is My review